Pages

Tuesday, November 17, 2015

A letter from the past


Aku tidak hidup di dalam puing-puing masa lalu
Aku tidak pula hidup di bawah bayang angan-angan semu
Aku hidup diantara realita, ditengah-tengah prahara
Aku hidup bersandingkan kata-kata
Bertahtahkan arti makna
Aku hidup di negeri katanya
Orang bilang negeri ini negeri dewata
Namun nyatanya penuh dengan prahara
Kata orang negeri ini kaya raya
Nyata-nyatanya rakyatku semua sengsara
Guruku bilang kalau raja itu titisan dewa
Tapi itu hanyalah retorika
Rajaku tak ubahnya serigala

Ibuku mengajarkan untuk berkata sebenarnya
Tapi mereka selalu bersandiwara
Mengatakan tidak nyatanya iya
Mereka bilang anti penguasa
Tapi hidup dengan menjilat sang raja
Rakyatku senang sang raja mencanangkan swasembada
Tapi isi beritanya impor saja
Orang dulu bilang tanah ini tanah surga
Namun ternyata itu omong kosong belaka

Ayahku mengatakan negeri ini negeri pancasila
Tapi sekarang tak ada artinya
Orang bilang hukum itu tak bernyawa
Tapi ternyata dia hidup dan memilih siapa yang harus binasa

Nenekku bilang dulu sang raja sangat dermawan
Tapi itu dulu...
Kini Akupun berkata
Aku prihatin dan ikut bersimpati atas rakyat yang kehilangan nyawa.....

No comments:

Post a Comment