Pages

Sunday, January 3, 2016

Kosong


Lihatlah dia. Sedari tadi hanya duduk termangu di depan laptop hitamnya. Di layar muncul lembar kerja words. Ya, niat awal ketika menyalakan laptop adalah untuk mengetik. Dia memiliki keinginan untuk dapat menjadi seorang penulis. Semangat dan kilat cahaya di wajahnya tadi kini telah mengendur. Kalimat yang dia ketik lebih banyak dimakan tombol backspace dibandingkan yang tertampil. Dia sebenarnya tidak bodoh, dia adalah lulusan salah satu perguruan tinggi ternama di jogja. Dia tidak bodoh, tapi dia bermasalah dengan konsistensi. Dia selalu berapi-api ketika mengawali sesuatu. Bersemangat laksana gunung yang siap meletus, namun tak lebih lama dari nyala sebatang korek. Dia mudah bersemangat semudah itu pula iya menumbangkannya. Sudah satu jam dia duduk dihadapan laptop usangnya. Satu jam dan hanya beberapa kalimat yang tertera di layar.
Semangat menulisnya terpompa ketika pagi tadi dia membaca sebuah buku. Buku yang menurut dia, memiliki kekuatan magis yang dapat menyentuh alam bawah sadarnya. Buku yang mengatakan bahwa untuk merubah sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. Bah, bukankah hal itu sudah diajarkan semenjak SD. Kasihan aku melihatnya, dia itu seperti sekor burung yang bingung akan jati dirinya. 4,5 tahun dia menimba ilmu di universitas. 4.5 tahun dan dia dengan mudahnya tertegun ketika membaca buku motivasi yang sebenarnya isinya sudah ada di alam bawah sadarmu. Dia masih saja duduk termangu di depan layar. Apa susahnya mengeluarkan ide dari kepalamu itu. Mana semangatmu pagi tadi.
Begitulah, jadi jangan heran ketika mengajaknya melakukan sesuatu hal kau akan mendapati semangat membaranya di awal, ketika ditengah proses sudah hal yang biasa jika lantas dia menghilang dan mengatakan bosan. Memang seperti itu perangainya. Lihatlah, betapa tolol  posisinya. Satu jam lewat beberapa menit yang lalu, dia adalah manusia yang menggunakan sebuah alat canggih untuk memudahkan pekerjaan menulis. Sekarang terbalik, sepertinya sedari tadi laptopnya yang justru memperhatikannya. Melalui kedua matanya yang hitam pekat itu, laptop melihat ada nyala api yang besar ketika proses booting selesai. Seiring dengan sentuhan tangan diatas keyboard, laptop menyaksikan perlahan nyala api itu padam dan berganti dengan kekosongan.
Apa yang terlihat saat ini adalah pemandangan yang biasa. Jika sudah begini si jam dinding akan mengeraskan suaranya, berusaha untuk membangunkan si empunya untuk kembali tersadar. Dia memang penulis yang aneh. Sebenarnya isi kepalanya itu encer, jika kau bisa melihat ide-ide yang berenang diantara otaknya, kalian akan menemukan puluhan cerita yang siap disajikan dan diramu menjadi docx. Seperti yang kubilang tadi, dia memang memiliki penyakit konsistensi. Padahal tadi dia sudah menuliskan alur cerita yang akan dibuat diatas selembar kertas. Dia ingin memulai dengan sebuah introduksi karakter yang ingin dimainkan di atas panggung cerita. Dia berencana menulis sebuahroman.
“aku melihat bayangmu diantara rak-rak buku yang berjajar manis di ruangan itu. Ah, sungguh manis kenangan akanmu. Kita berdiri berhadapan saling memandang melalui celah diantara tumpukan buku yang berjejer miring”
Itu hasil tulisannya sedari tadi. Huek. Aku sudah bisa membayangkan bahwa pemeran lelaki dan perempuan di dalam ceritanya adalah seorang kutu buku sama seperti penulisnya. Aku sering dibuat heran olehnya, dia itu suka sekali membaca buku, Kau akan menemukan tumpukan novel, buku sejarah populer dan majalah national geographic edisi bahasa inggris di kamarnya, tapi dia susah sekali untuk hanya sekedar menulis, maaf kuralat mengetik. Kenapa tidak dimulai saja dengan membuat resensi buku-buku yang pernah dibacanya. Ah.. andai aku bisa berteriak didepannya saat ini pasti akan menarik. Sayang aku tidak bisa berbicara dengan lelaki bodoh itu.
Aku sudah membaca gurat penasaran di wajah kalian. Aku memang tidak bisa berbicara dengannya. Aku memang ada di dekatnya jadi wajar aku bisa menjelaskan keadaan dirinya secara detail. Aku ini tidak memiliki wujud jadi bagiamana aku bicara dengannya. Sudah-sudah biar aku jelaskan. Bukan aku bukan hantu dan semacamnya. Aku adalah karakter yang dia buat. Aku lelah menunggunya membuatkan rumah ceritaku. Dari tadi dia tidak beranjak ke kalimat berikutnya. Jadi apa salah jika aku memaki si penulis eh sebenarnya dia itu penciptaku. Toh dia juga tidak akan bisa mendengarku.
Jangan kalian kira aku tidak berusaha untuk membantunya. Aku sudah berusaha dari tadi, bahkan aku sudah mengusulkan jalan cerita versiku yang lebih keren dan elegan bukan drama perpustakaan murahan yang ingin dia tulis. Aku hafal karakter penciptaku ini. Banyak versi cerita yang tersimpan di dalam hard disk laptopnya. Versi yang bermacam-macam tentangku. Ketika dia menciptakanku, aku mengira akan memiliki sebuah jalan cerita yang keren, penuh dengan konflik dan drama untuk mendapatkan kekasih pujaan hatiku. Kisah yang akan membuatku kekal tercetak di lembaran kertas, syukur-syukur bisa menjadi novel.
Lihatlah sekarang keadaanku, aku kesepian di dalam otaknya. Sendirian! Seharusnya aku sudah berpindah kedalam lembar words dan bertemu gadis pujaanku. Aku tidak tahu apakah dia sudah menciptakan pasanganku atau belum, kalaupun sudah aku tetap tidak akan bisa bertemu dengannya hingga cerita kami selesai. Kalaupun dia sudah menciptakan tulang rusukku, aku tidak mungkin bisa mencarinya di labirin-labirin memorinya yang kacau itu. Bagimana jika aku tersesat dan kemudian dia melupakanku dan aku lenyap. Kasihan kekasihku, dia kan menjanda sebelum menikah denganku.  Membayangkannya saja sudah membuat perutku mual. Jadi aku memilih untuk diam saja menunggu sampai penciptaku menciptakan jembatan kisah untukku bisa bersatu dengan kekasihku. Aku akan terus memakinya untuk mengusir rasa bosanku. Ya! Ide yang brilian.

No comments:

Post a Comment