Lihatlah dia. Sedari tadi hanya
duduk termangu di depan laptop hitamnya. Di layar muncul lembar kerja words.
Ya, niat awal ketika menyalakan laptop adalah untuk mengetik. Dia memiliki
keinginan untuk dapat menjadi seorang penulis. Semangat dan kilat cahaya di
wajahnya tadi kini telah mengendur. Kalimat yang dia ketik lebih banyak dimakan
tombol backspace dibandingkan yang
tertampil. Dia sebenarnya tidak bodoh, dia adalah lulusan salah satu perguruan
tinggi ternama di jogja. Dia tidak bodoh, tapi dia bermasalah dengan
konsistensi. Dia selalu berapi-api ketika mengawali sesuatu. Bersemangat
laksana gunung yang siap meletus, namun tak lebih lama dari nyala sebatang
korek. Dia mudah bersemangat semudah itu pula iya menumbangkannya. Sudah satu
jam dia duduk dihadapan laptop usangnya. Satu jam dan hanya beberapa kalimat
yang tertera di layar.
Semangat menulisnya terpompa
ketika pagi tadi dia membaca sebuah buku. Buku yang menurut dia, memiliki
kekuatan magis yang dapat menyentuh alam bawah sadarnya. Buku yang mengatakan
bahwa untuk merubah sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. Bah, bukankah hal itu
sudah diajarkan semenjak SD. Kasihan aku melihatnya, dia itu seperti sekor
burung yang bingung akan jati dirinya. 4,5 tahun dia menimba ilmu di
universitas. 4.5 tahun dan dia dengan mudahnya tertegun ketika membaca buku
motivasi yang sebenarnya isinya sudah ada di alam bawah sadarmu. Dia masih saja
duduk termangu di depan layar. Apa susahnya mengeluarkan ide dari kepalamu itu.
Mana semangatmu pagi tadi.
Begitulah, jadi jangan heran
ketika mengajaknya melakukan sesuatu hal kau akan mendapati semangat membaranya
di awal, ketika ditengah proses sudah hal yang biasa jika lantas dia menghilang
dan mengatakan bosan. Memang seperti itu perangainya. Lihatlah, betapa tolol posisinya. Satu jam lewat beberapa menit yang
lalu, dia adalah manusia yang menggunakan sebuah alat canggih untuk memudahkan
pekerjaan menulis. Sekarang terbalik, sepertinya sedari tadi laptopnya yang
justru memperhatikannya. Melalui kedua matanya yang hitam pekat itu, laptop
melihat ada nyala api yang besar ketika proses booting selesai. Seiring dengan
sentuhan tangan diatas keyboard, laptop menyaksikan perlahan nyala api itu
padam dan berganti dengan kekosongan.
Apa yang terlihat saat ini adalah
pemandangan yang biasa. Jika sudah begini si jam dinding akan mengeraskan
suaranya, berusaha untuk membangunkan si empunya untuk kembali tersadar. Dia
memang penulis yang aneh. Sebenarnya isi kepalanya itu encer, jika kau bisa
melihat ide-ide yang berenang diantara otaknya, kalian akan menemukan puluhan
cerita yang siap disajikan dan diramu menjadi docx. Seperti yang kubilang tadi, dia memang memiliki penyakit
konsistensi. Padahal tadi dia sudah menuliskan alur cerita yang akan dibuat
diatas selembar kertas. Dia ingin memulai dengan sebuah introduksi karakter
yang ingin dimainkan di atas panggung cerita. Dia berencana menulis sebuahroman.
“aku melihat bayangmu diantara rak-rak buku yang berjajar manis di
ruangan itu. Ah, sungguh manis kenangan akanmu. Kita berdiri berhadapan saling
memandang melalui celah diantara tumpukan buku yang berjejer miring”
Itu hasil tulisannya sedari tadi. Huek.
Aku sudah bisa membayangkan bahwa pemeran lelaki dan perempuan di dalam
ceritanya adalah seorang kutu buku sama seperti penulisnya. Aku sering dibuat
heran olehnya, dia itu suka sekali membaca buku, Kau akan menemukan tumpukan
novel, buku sejarah populer dan majalah national geographic edisi bahasa
inggris di kamarnya, tapi dia susah sekali untuk hanya sekedar menulis, maaf
kuralat mengetik. Kenapa tidak dimulai saja dengan membuat resensi buku-buku
yang pernah dibacanya. Ah.. andai aku bisa berteriak didepannya saat ini pasti
akan menarik. Sayang aku tidak bisa berbicara dengan lelaki bodoh itu.
Aku sudah membaca gurat penasaran di
wajah kalian. Aku memang tidak bisa berbicara dengannya. Aku memang ada di
dekatnya jadi wajar aku bisa menjelaskan keadaan dirinya secara detail. Aku ini
tidak memiliki wujud jadi bagiamana aku bicara dengannya. Sudah-sudah biar aku
jelaskan. Bukan aku bukan hantu dan semacamnya. Aku adalah karakter yang dia
buat. Aku lelah menunggunya membuatkan rumah ceritaku. Dari tadi dia tidak
beranjak ke kalimat berikutnya. Jadi apa salah jika aku memaki si penulis eh
sebenarnya dia itu penciptaku. Toh dia juga tidak akan bisa mendengarku.
Jangan kalian kira aku tidak
berusaha untuk membantunya. Aku sudah berusaha dari tadi, bahkan aku sudah
mengusulkan jalan cerita versiku yang lebih keren dan elegan bukan drama
perpustakaan murahan yang ingin dia tulis. Aku hafal karakter penciptaku ini.
Banyak versi cerita yang tersimpan di dalam hard disk laptopnya. Versi yang
bermacam-macam tentangku. Ketika dia menciptakanku, aku mengira akan memiliki
sebuah jalan cerita yang keren, penuh dengan konflik dan drama untuk mendapatkan
kekasih pujaan hatiku. Kisah yang akan membuatku kekal tercetak di lembaran
kertas, syukur-syukur bisa menjadi novel.
Lihatlah sekarang keadaanku, aku
kesepian di dalam otaknya. Sendirian! Seharusnya aku sudah berpindah kedalam
lembar words dan bertemu gadis pujaanku. Aku tidak tahu apakah dia sudah
menciptakan pasanganku atau belum, kalaupun sudah aku tetap tidak akan bisa
bertemu dengannya hingga cerita kami selesai. Kalaupun dia sudah menciptakan
tulang rusukku, aku tidak mungkin bisa mencarinya di labirin-labirin memorinya
yang kacau itu. Bagimana jika aku tersesat dan kemudian dia melupakanku dan aku
lenyap. Kasihan kekasihku, dia kan menjanda sebelum menikah denganku. Membayangkannya saja sudah membuat perutku
mual. Jadi aku memilih untuk diam saja menunggu sampai penciptaku menciptakan
jembatan kisah untukku bisa bersatu dengan kekasihku. Aku akan terus memakinya
untuk mengusir rasa bosanku. Ya! Ide yang brilian.
No comments:
Post a Comment