Izinkan aku untuk menulis tentangmu. Menulis tentang
keberadaanmu.
Waktu, kau bagaikan sebuah buku yang berada di dalam almari.
Pengunjung menyadari kehadiranmu, melihatmu. Mereka tahu engkau ada diantara
mereka. Terkadang kehadiranmu mudah untuk dilewatkan, tapi engkau adalah elemen
penting di ruangan itu. Tanpamu, Tidak akan ada keceriaan. Tak akan ada
peristiwa. Halamanmu selalu bertambah seiring dengan momen yang terlewatkan.
Siapapun bisa menuliskan cerita di antara dirimu. Apapun, bebas sesuai dengan
keinginan sang penulis. Hanya ada satu syarat yang kau ajukan. Setiap huruf
yang tertulis tidak akan pernah bisa dihapuskan.
Begitulah jalan ceritamu, banyak yang mendekatimu
untuk menuliskan kisah. Dengan segala rayuan dan mimik wajah yang memelas. Ketika
tangan-tangan mereka selesai menggoresmu. Sebagian berakhir seperti keinginan,
sebagian akan memakimu karena jalan ceritanya berbeda. Mereka marah dan
berteriak. Berusaha untuk merubah kisah yang sudah tertulis, namun kau tetap
bergeming. Diam dan hanya diam. Aturanmu jelas dan tidak akan ada multi tafsir.
Kisah yang telah tertulis tidak akan bisa dihapuskan. Tak jarang tubuhmu
dirobek oleh amarah, diinjak oleh ketamakan tapi kau masih tetap bergeming.
Diam dan membisu. Ketika mereka telah bosan meluapkan amarah. Setiap halaman
yang telah dirusak akan kembali seperti sedia kala. seperti itulah dirimu. Kau
akan selalu kembali di dalam almari bersama seluruh kisah yang telah tertulis.
Lengkap tanpa ada satu kisah yang terlewat.
Waktu, begitu mudah kau dilupakan. Kehadiranmu seolah
tak nampak diantara kecerian dan canda tawa yang berlalu. ketika kau dianggap
ada, mereka akan mengumpatmu karena
bosan dan lelah menunggu. Waktu, kau begitu unik dan indah. Tak peduli berapa
banyak orang yang mengumpatmu. Kau selalu bekerja didalam diammu. Kau tak
pernah mengeluh. Waktu, engkau adalah elemen terkuat dalam jaring-jaring
kehidupan dunia. Tanpamu semua akan membisu, kosong dan membiru.
No comments:
Post a Comment