Pages

Monday, January 11, 2016

Rumput yang Hijau




Hello world,
Dahulu, ketika masa sekolah dasar sering aku mendengar peribahasa “ Rumput tetangga lebih hijau daripada tanaman sendiri”. peribahasa tersebut mengandaikan bahwa kita mendambakan kondisi orang lain yang kita rasa lebih baik daripada kita namun pada kenyataanya adalah sama saja. Jika dulu peribahasa itu hanya kuingat untuk bahan ulangan, saat ini sepertinya aku sedang mengalaminya. Semua ini bermula ketika aku memutuskan untuk menulis blog kembali dengan sebuah harapan bahwa blog ku akan banyak dikunjungi orang. Singkat cerita aku melakukan banyak observasi dari satu blog ke blog lain. Dari novel fiksi hingga sastra aku baca lebih dengan penghayatan. Maklum saja meskipun aku suka membaca sebenarnya tidak semua isi buku dapat aku mengerti.
Aku ingin menjadi seorang penulis yang hebat dan keren. Tips mengenai blogging dan SEO aku baca. Semua artikel mengatakan bahwa kita harus konsisten memberikan konten yang menarik. Konten yang akan membuat pembaca suka dan memutuskan untuk mengunjungi blog kita secara teratur. Awalnya aku ingin membuat konten mengenai cerita pendek karena ketika aku melakukan pencarian di mbah google, pencarian mengenai cerpen cukup banyak. Aku juga tertarik untuk membuat blog mengenai design grafis dengan menggunakan software semacam corel draw.
Novel yang kupunya kembali aku baca untuk mendapatkan isnpirasi, aku juga menginstal adobe illustrator untuk belajar design grafis. Ya satu persatu aku lakukan, aku mendownload tutorial design kemudian mencontohnya sendiri. awalnya sulit dan sekarang semakin sulit padahal salah satu syarat membesarkan blog adalah menulis konten secara teratur. Semangat diawal kembali padam. Pada beberapa postingan sebelumnya aku lebih memaksakan tulisan menjadi sebuah cerita dibandingkan menulis. Pada titik tersebut aku menyadari ternyata menulis dan mendesain itu benar-benar sulit. Ketika melihat blogger lain yang sudah terkenal ataupun designer yang sudah memiliki follower ribuan aku melupakan sebuah elemen penting. PROSES.
Roma tidak jadi dalam semalam bukan. memang sih candi prambanan konon katanya hanya dibangun dalam waktu semalam, tapi bukan itu intinya. ya kan. Proses itu penting karena mereka yang aku anggap terkenal juga pasti memiliki proses panjang untuk sampai tahap ini. ketika aku melihat dan membaca karya mereka aku segera ingin berhasil seperti mereka, pengen banget. Tapi waktu akhirnya menunjukkan bahwa hal itu tidaklah mungkin, dari hari ke hari banyak draft tulisan dan design yang hanya menjadi draft. Terbengkalai dan tidak teurus. Kemarin-kemarin aku selalu melihat luar padahal sesungguhnya aku juga memiliki kemampuan lain yang justru saat ini terkesan aku pinggirkan.
Aku lulus dari Jurusan Hama dan Penyakit tumbuhan di Fakultas Pertanian UGM. Dari latar belakang pendidikanku seharusnya aku sudah dapat menulis banyak konten mengenai perlindungan tanaman. Karena jujur saja pasti kalian yang membaca tulisan ini jika bukan teman-temanku dari fakultas pertanian pasti baru pertama kali mendengar hama dan penayakit tumbuhan. Sama . dulu sebelum aku masuk jurusan hpt aku juga tidak pernah mendengar sama sekali tentang HPT. Dulu aku kira bahwa fakultas pertanian, ya hanya satu jurusan. Menjadi seorang sarjana pertanian sebenarnya bukanlah cita-citaku sewaktu sma. aku ingin untuk menjadi seorang dokter. Dan tujuan ku adalah Fakultas Kedokteran UGM. Jurusan idaman semua anak jurusan ipa. Tapi takdir nyatanya berkata lain, aku gagal di UM-UGM dan akhirnya hanya menyisakan satu kesempatan emas untuk masuk UGM melalui SNMPTN. Aku tidak berniat untuk masuk universitas lain karena fanatisme ku terhadap UGM cukup tinggi. Entah kenapa. setelah gagal, aku kemudian mencari daftar peminat di seluruh fakultas yang ada di UGM. Aku melihat bahwa pertanian peminatnya sedikit. Dari situlah pertemuanku dengan jurusan HPT dimulai. Ketika menelusuri jurusan-jurusan yang ada aku memutuskan untuk memilih HPT karena namanya menarik. Hama dan penyakit tumbuhan. Aku memilih HPT karena pada saat itu jumlah peminat di fakultas pertanian masih kecil jadi hal ini akan memperbesar peluang ku untuk memakai almamater UGM

Awal ketika masuk, perlahan aku menemukan bahwa pertanian memiliki sisi lain yang sungguh sangat menarik. Pertanian tidak hanya mengenai cangkul dan lumpur. Pertanian adalah satu-satunya sektor yang menopang kehidupan manusia. Diakui atau tidak, kalian pasti masih membutuhkan nasi untuk makan, buah untuk dibuat jus dan gandum untuk kalian olah menjadi kue. Hingga saat ini belum ada tekonolgi sintetis untuk meniru tanaman. Benar kan?
Dari latar blekang pendidikanku ini saja sebenarnya aku bisa menulis konten yang cukup banyak ditambah lagi aku diuntungkan karena aku tidak harus memulainya dari awal. Namun aku masih ragu apakah tulisanku tentang dunia perlindungan tanaman akan menjadi menarik selayaknya sebuah cerpen roman? Pertanyaan itu yang kini sedang melanda otak kecilku. Pertanyaan yang datang bersamaan dengan pertanyaan lain, apakah aku hanya ingin mencari populatitas semu atau menyebarkan pengetahuan kepada khalayak? Jawabannya tentu saja akan terlihat dari postinganku selanjutnya, apapun itu saat ini belum ada gambaran di kepalaku.

Sekian terimakasih
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.

Sunday, January 3, 2016

Kosong


Lihatlah dia. Sedari tadi hanya duduk termangu di depan laptop hitamnya. Di layar muncul lembar kerja words. Ya, niat awal ketika menyalakan laptop adalah untuk mengetik. Dia memiliki keinginan untuk dapat menjadi seorang penulis. Semangat dan kilat cahaya di wajahnya tadi kini telah mengendur. Kalimat yang dia ketik lebih banyak dimakan tombol backspace dibandingkan yang tertampil. Dia sebenarnya tidak bodoh, dia adalah lulusan salah satu perguruan tinggi ternama di jogja. Dia tidak bodoh, tapi dia bermasalah dengan konsistensi. Dia selalu berapi-api ketika mengawali sesuatu. Bersemangat laksana gunung yang siap meletus, namun tak lebih lama dari nyala sebatang korek. Dia mudah bersemangat semudah itu pula iya menumbangkannya. Sudah satu jam dia duduk dihadapan laptop usangnya. Satu jam dan hanya beberapa kalimat yang tertera di layar.
Semangat menulisnya terpompa ketika pagi tadi dia membaca sebuah buku. Buku yang menurut dia, memiliki kekuatan magis yang dapat menyentuh alam bawah sadarnya. Buku yang mengatakan bahwa untuk merubah sesuatu harus dimulai dari diri sendiri. Bah, bukankah hal itu sudah diajarkan semenjak SD. Kasihan aku melihatnya, dia itu seperti sekor burung yang bingung akan jati dirinya. 4,5 tahun dia menimba ilmu di universitas. 4.5 tahun dan dia dengan mudahnya tertegun ketika membaca buku motivasi yang sebenarnya isinya sudah ada di alam bawah sadarmu. Dia masih saja duduk termangu di depan layar. Apa susahnya mengeluarkan ide dari kepalamu itu. Mana semangatmu pagi tadi.
Begitulah, jadi jangan heran ketika mengajaknya melakukan sesuatu hal kau akan mendapati semangat membaranya di awal, ketika ditengah proses sudah hal yang biasa jika lantas dia menghilang dan mengatakan bosan. Memang seperti itu perangainya. Lihatlah, betapa tolol  posisinya. Satu jam lewat beberapa menit yang lalu, dia adalah manusia yang menggunakan sebuah alat canggih untuk memudahkan pekerjaan menulis. Sekarang terbalik, sepertinya sedari tadi laptopnya yang justru memperhatikannya. Melalui kedua matanya yang hitam pekat itu, laptop melihat ada nyala api yang besar ketika proses booting selesai. Seiring dengan sentuhan tangan diatas keyboard, laptop menyaksikan perlahan nyala api itu padam dan berganti dengan kekosongan.
Apa yang terlihat saat ini adalah pemandangan yang biasa. Jika sudah begini si jam dinding akan mengeraskan suaranya, berusaha untuk membangunkan si empunya untuk kembali tersadar. Dia memang penulis yang aneh. Sebenarnya isi kepalanya itu encer, jika kau bisa melihat ide-ide yang berenang diantara otaknya, kalian akan menemukan puluhan cerita yang siap disajikan dan diramu menjadi docx. Seperti yang kubilang tadi, dia memang memiliki penyakit konsistensi. Padahal tadi dia sudah menuliskan alur cerita yang akan dibuat diatas selembar kertas. Dia ingin memulai dengan sebuah introduksi karakter yang ingin dimainkan di atas panggung cerita. Dia berencana menulis sebuahroman.
“aku melihat bayangmu diantara rak-rak buku yang berjajar manis di ruangan itu. Ah, sungguh manis kenangan akanmu. Kita berdiri berhadapan saling memandang melalui celah diantara tumpukan buku yang berjejer miring”
Itu hasil tulisannya sedari tadi. Huek. Aku sudah bisa membayangkan bahwa pemeran lelaki dan perempuan di dalam ceritanya adalah seorang kutu buku sama seperti penulisnya. Aku sering dibuat heran olehnya, dia itu suka sekali membaca buku, Kau akan menemukan tumpukan novel, buku sejarah populer dan majalah national geographic edisi bahasa inggris di kamarnya, tapi dia susah sekali untuk hanya sekedar menulis, maaf kuralat mengetik. Kenapa tidak dimulai saja dengan membuat resensi buku-buku yang pernah dibacanya. Ah.. andai aku bisa berteriak didepannya saat ini pasti akan menarik. Sayang aku tidak bisa berbicara dengan lelaki bodoh itu.
Aku sudah membaca gurat penasaran di wajah kalian. Aku memang tidak bisa berbicara dengannya. Aku memang ada di dekatnya jadi wajar aku bisa menjelaskan keadaan dirinya secara detail. Aku ini tidak memiliki wujud jadi bagiamana aku bicara dengannya. Sudah-sudah biar aku jelaskan. Bukan aku bukan hantu dan semacamnya. Aku adalah karakter yang dia buat. Aku lelah menunggunya membuatkan rumah ceritaku. Dari tadi dia tidak beranjak ke kalimat berikutnya. Jadi apa salah jika aku memaki si penulis eh sebenarnya dia itu penciptaku. Toh dia juga tidak akan bisa mendengarku.
Jangan kalian kira aku tidak berusaha untuk membantunya. Aku sudah berusaha dari tadi, bahkan aku sudah mengusulkan jalan cerita versiku yang lebih keren dan elegan bukan drama perpustakaan murahan yang ingin dia tulis. Aku hafal karakter penciptaku ini. Banyak versi cerita yang tersimpan di dalam hard disk laptopnya. Versi yang bermacam-macam tentangku. Ketika dia menciptakanku, aku mengira akan memiliki sebuah jalan cerita yang keren, penuh dengan konflik dan drama untuk mendapatkan kekasih pujaan hatiku. Kisah yang akan membuatku kekal tercetak di lembaran kertas, syukur-syukur bisa menjadi novel.
Lihatlah sekarang keadaanku, aku kesepian di dalam otaknya. Sendirian! Seharusnya aku sudah berpindah kedalam lembar words dan bertemu gadis pujaanku. Aku tidak tahu apakah dia sudah menciptakan pasanganku atau belum, kalaupun sudah aku tetap tidak akan bisa bertemu dengannya hingga cerita kami selesai. Kalaupun dia sudah menciptakan tulang rusukku, aku tidak mungkin bisa mencarinya di labirin-labirin memorinya yang kacau itu. Bagimana jika aku tersesat dan kemudian dia melupakanku dan aku lenyap. Kasihan kekasihku, dia kan menjanda sebelum menikah denganku.  Membayangkannya saja sudah membuat perutku mual. Jadi aku memilih untuk diam saja menunggu sampai penciptaku menciptakan jembatan kisah untukku bisa bersatu dengan kekasihku. Aku akan terus memakinya untuk mengusir rasa bosanku. Ya! Ide yang brilian.