Mega memandang angkasa di dalam tepian, membariskan camar kembali ke peraduan mereka. Deburan ombak mengalunkan syair senja di tepi pantai. Meneduhkan, menenangkan. Aku dan diriku yang terduduk diatas gulungan pasir, menatap horizon didepan sana. Semilir angin pantai menerbangkan anganku bersama air yang bermuara ke luasnya samudra. Bibir terkatup memohon merangkai kata, menelurkan logika. Di antara gelisah aku bertanya, diantara gulana aku meronta. Sederhana, sungguh sangat sederhana. Yang perlu kulakukan hanyalah menemukan sebuah kata. Satu kata, tak lebih. Selama hidupku aku menunggu untuk mengatakan kata itu. Sebuah kata yang aku yakini akan merubah alur kehidupanku. Kata yang akan memlambungkanku ke sebuah definisi kehidupan yang baru. Kehidupan yang lebih hangat, lebih nyata dan tanpa kesendirian. Aku terduduk menggenggam pasir. Aku meremasnya seolah ingin menegeluarkan sari-sarinya mengangkasa. Aku ingin segera mengungkapkan apa yang sudah seharusnya aku katakan. Aku tercekat, seolah kerongkonganku terisi dengan terumbu karang samudra. Aku membatu,bagaikan lalat yang terperangkap di sarang laba-laba dan aku berlebihan. Seharusnya ini berjalan dengan mudah dan lancar. Tujuanku kesini adalah untuk mengungkapkan apa yang selama ini telah memenuhi relung jiwaku kepadanya. Kini setelah semua yang telah kurencanakan. Apa yang bisa kulakukan hanyalah terduduk dalam diam. Bodoh.. aku adalah lelaki terbodoh di dunia ini. Waktu terus berlalu, aku sudah kehabisan waktu. Sebentar lagi dia akan kembali. Lima belas menit yang lalu dia ijin untuk membeli air kemasan. Memberikan waktu untukku dapat mengeluarkan batu yang mengganjal kerongkonganku. Jika aku tidak bisa mengatakan kepadanya hari ini, semua akan terlambat. Tidak akan ada lagi kesempatan kedua bagiku. Esok dia akan pulang ke kampung halamannya. Dia mengatakan bahwa tugasnya disini telah selesai. Dia baru saja menyelesaikan studi sarjana di sebuah universitas ternama. Sama sepertiku. Jika aku tidak bisa mengatakannya hari ini. Semuanya akan berakhir.
Hampir saja aku tidak menyadari kehadirannya. Dia duduk disebelahku, memandang ombak sembari meneguk air. Aku terpesona olehnya. Aku terpesona atas semua yang ada di dalam dirinya. Senyuman, tawa, canda, dan semua perilakunya membuatku terpesona. Ini adalah kesempatan terakhirku untuk mengatakan semuanya kepadanya. Aku menoleh kearahnya dan menggengeam tangannya. Aku bisa merasakan dia terkejut, dan menoleh kepadaku. Wajahnya menunjukkan seribu tanya. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku mengatakan 4 kata itu. Empat kata yang sudah membuatku kehilangan semua yang telah aku pelajari. Empat kata yang akan merubah arah hidupku.
“Maukah Engkau Menikah Denganku?”
Hampir saja aku tidak menyadari kehadirannya. Dia duduk disebelahku, memandang ombak sembari meneguk air. Aku terpesona olehnya. Aku terpesona atas semua yang ada di dalam dirinya. Senyuman, tawa, canda, dan semua perilakunya membuatku terpesona. Ini adalah kesempatan terakhirku untuk mengatakan semuanya kepadanya. Aku menoleh kearahnya dan menggengeam tangannya. Aku bisa merasakan dia terkejut, dan menoleh kepadaku. Wajahnya menunjukkan seribu tanya. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku mengatakan 4 kata itu. Empat kata yang sudah membuatku kehilangan semua yang telah aku pelajari. Empat kata yang akan merubah arah hidupku.
“Maukah Engkau Menikah Denganku?”
No comments:
Post a Comment